Rabu, 24 Agustus 2016

Spring and Destiny Part 3


PART 3 : YOU ?!
Jimin POV~
     Udara di musim ini dingin meskipun tak sedingin saat musim dingin, namun tetap saja. aku merapatkan jaket yang kupakai sembari berjalan mencari kafe yang cocok untukku. Tak berapa lama aku menemukan kafe tepat beberapa meter dari apartemenku. Dekorasi depan kafe itu cukup unik, banyak warna  kopi dan coklat kayu  yang mendominasi. Sangat cocok untuk penggemar kopi jika mendatangi kafeitu. Seperti diriku saat ini.
     Aku melangkah pelan, membuka pelan pintu kafe itu. sangat bagus dan unik untuk dekorasi kafe ini. aku mengedarkan pandanganku ke seluruh kafe ini, namun pandanganku terhenti pada satu titik. Dia .. seseorang yang beberapa hari lalu memenuhi seluruh otakku. Bagaimana bisa aku bertemu dengannya lagi. Kebetulan ini aneh.
     “selamat datang di kafe kami. Kami akan melayani anda dengan sepenuh hati”ucapnya sembari membungkukan badannya 90°. Aku masih menatapnya dari ujung kaki sampai puncak kepalanya. Apa yang sedang dia lakukan disini ?? apakah dia salah satu dari pegawai kafe ini ?? cukup !! sejak kapan Park Jimin menjadi banyak bertanya ?? hentikan itu Park Jimin !! . Dia menegakkan tubuhnya kembali. Matanya melotot setelah melihatku tepat didepannya.
     “Apa yang kau lakukan saat ini ?? bukannya kau harus melayani pelangganmu dengan sepenuh hati ??” tanyaku. Aku berlalu menuju meja  yang tepat untuk ku tempati.
Author POV~
     ‘bagaimana bisa dia kesini ?? apa dia mengikutiku ??’batin Seohun. Ia masih tak percaya dengan makhluk yang sedang duduk di meja pojok depan kaca jendela besar yang memungkinkan dia dapat melihat keadaan luar dari kafe ini. Namja itu, Park Jimin.
     Seohun masih merutuki nasibnya sekarang, bagaimana bisa dapat menemui namja menyebalkan di tempat ini ??.  dia menghembuskan nafasnya kasar, mencoba untuk mengontrol emosinya jika nanti dia menghadapi makhluk didepannya. Kemudian dia berlalu menuju Namja itu.
     “ada yang bisa saya bantu TUAN ??”ucap Seohun menekan kata ‘tuan’ untuk ‘dia’. Jimin menoleh masih dengan tatapan dinginnya kemudian tatapannya berlalu keluar kafe.
     “1 Caramel macchiato”ucapnya tanpa menoleh kearah pelayan yang menulis pesanan yang ingin dia pesan.
     “hanya itu TUAN ??”ucap Seohun. Ia masih bisa mengontrol emosinya. Ia masih tak habis pikir bagaimana bisa ada manusia yang sifatnya seperti dia. Jika Seohun mau, dia ingin menyiram air panas tepat pada hatinnya agar dinginnya dapat mencair.
     Seohun berlalu meninggalkan Jimin yang masih memandang ke arah luar kafe itu. seohun menghampiri rekan kerjanya atau lebih tepat pegawainya. Seohun adalah pemilik Kafe itu, dan semua dekorasi pada kafe itu dia yang mendekornya. Dan juga ia sangat senang jika melibatkan dirinya untuk membantu pegawai di kafenya. Seperti tadi,dia menjadi pelayan di kafe yang ia miliki.
    “dia ingin Caramel macchiato”ucap Seohun pada salah satu pegawai yang tugasnya meracik kopi atau yang lain. Seohun memandang Jimin lagi.
     ‘sebenarnya jika ia tersenyum mungkin sangat manis. Tapi itu hal yang sangat mungkin!!’ batin seohun. Ia menggelengkan kepala sembari berdecak heran atas sifat yang dipunyai Jimin.
     “kenapa Seohun-sshi ?? kau menyukainya”ucap Pegawai itu. seohun membelalakan matannya.
     “Nega ?? menyukainya ?? sangat tidak mungkin Nari-sshi. manusia berhati dingin itu sama sekali bukan tipeku”ucap Seohun pada pegawai yang diketauhi bernama Nari itu. Nari hanya terkekeh mendengar ucapan atasannya –yang mungkin lebih sebagai sahabatnya- itu, kemudian memberikan secangkir kopi yang dipesan Namja –yang Seohun sebut- berhati dingin itu.
     “apa sudah selesai ??”lanjut Soehun. Nari mengangguk kaemudian memberikan secangkir kopi Caramel pada Seohun untuk diberikan pada Jimin. Seohun berlalu menuju meja tempat Jimin duduk sekarang.
***
     Seohun melangkah ringan menuju sekolahnya. Ia menyambut pagi ini dengan senyuman yang sudah ia tunjukan sedari tadi. Cuaca pagi ini sangat membuatnya bersemangat untuk memulai aktivitasnya. Ia terus melangkah menuju sekolahnya dan tak lupa selalu menyambut ramah orang yang ia lewati. Termasuk Yoona dan Namjachingu-nya, jungkook.
     “good morning sepasang kekasih !!”ucap Seohun tak lupa dengan senyum manisnya. Yoona membalas senyum manis Seohun.
     “pagi juga”ucap Yoona tetu saja dengan senyum manis yang juga ia miliki.

     “Ohaiyou Seohun-sshi”ucap Jungkook sambil melambaikan tangannya.
     “eiihh ?? jungkook-ah, kau tidak perlu memakai bahasa formal seperti itu”ucap Seohun. Jungkook tersenyum kikuk, tangannya menggaruk tekuknya yang tidak gatal “aku jadi tidak enak”ucap Jungkook. Ia masih menunjukan senyum kikuknya itu.
     “kau tidak perlu merasa tidak enak denganku. Lagipula kalau memakai bahasa formal jadi terasa bukan seperti teman melainkan seperti seonbae dan hoobae”ucap Seohun. Jungkook menganggukan kepala.
     “kajja !! beberapa menit lagi bel akan berbunyi”ucap Yoona sambil melihat jam yang sudah bertengger manis pada pergelangan tanganya. Jungkook dan Seohun mengangguk mengerti, kemudian mereka melangkah lebih cepat menuju sekolahnya.
Tepat ditengah perjalanan mereka, mereka melihat Namja tampan didepannya. Earphone yang sudah terpasang itu tengah  melingkar di kepala namja itu tak lupa Tangannya yang ia masukkan ke kedua kantong saku yang berada di kanan kiri celananya.
       Yoona menghampiri Namja itu dengan berlari kecil, sedangkan Seohun dan Jungkook mengikuti kaki Yoona melangkah ke Namja itu dengan santai.
      “Jimin-ah !! mau pergi ke sekolah eoh ??”ucap Yoona. Ia melingkarkan lengan kanannya di leher Jimin. Jimin tersentak akan perlakuan Yoona “singkirkan lengan kotormu itu”ucapnya dingin. Yoona mendengus kesal lalu ia melepaskan lengannya.
      “Annyonghaseyo Sunbaenim”ucap  Jungkook. Ia membungkukan badannya sembilan puluh derajat pada Jimin. Jimin hanya menganggukan kepalanya sebagai balasan sapaan dari Jungkook.
Seohun membelalakkan matanya yang buat itu menjadi lebih bulat.  Kenapa dia harus bertemu dengan Namja pendek itu lagi ??
Seolhun POV~
      Ada apa ini ?? kenapa aku melihat Namja pendek ini lagi ?? kenapa bumi ini sempit sekali ?? 
Banyak pertanyaan yang berkecamuk dibenakku. Jimin, namja itu berdiri disebelah Yoona tepat berada di depanku. Ia masih sama. Sikapnya, tatapannya, semuanya. Dingin, seperti es yang mungkin tak akan bisa mencair. Apa ia tak bosan menjalani hidup seperti itu ?? 
ah sudahlah Seohun kau tak perlu memikirkan Namja pendek ini. kau sudah cukup pusing dengan tugas sekolahmu itu.
      “jimin-ah !! kenalkan teman baruku Seohun !!” Yoona mencolek lenganku dengan tangannya dan membuyarkan pikiran tentang Jimin yang berada di otakku. Aku langsung membungkuk sembilan puluh derajat di depannya. Lihatlah Seohun kau membungkukkan badanmu lagi di depan Namja pendek ini.
      “Aigoo !! kyeopta !! lihatlah jimin !! dia bahkan sangat menggemaskan”ucap Yoona. Aku tak habis fikir, aku bahkan hanya membungkukan badanku tapi Yoona mengatakan apa yang aku lakukan sangat menggemaskannya.
       Jimin hanya melirikku sekilas. Heol !! Namja ini. bagaimana bisa aku dan dia bisa berteman? bahkan berkenalan saja aku sudah malas, kalau saja Yoona tidak menyenggolku dan membuatkku bergerak refleks karena perkataannya tadi, mungkin aku sudah lebih dulu mengucapkan ‘mian Yoona aku harus segera kesekolah ada hal yang ingin aku urus’. Namun semua sudah terlambat kalau saja aku tak memikirkan Namja ini.
       “ya !! jimin-ah seharusnya kau membalas perlakuannya meskipun hanya menganggukan kepala !!”ucap Yoona. Jimin hanya melirik sekilas ke sahabatnya itu kemudian berlalu meninggalkanku, Yonna, dan tentu saja Jungkook.
       “kalau begitu aku duluan ya !! Yoona-ah Jungkook-ah”ucapku menatap Yoona dan Jungkook bergantian “Annyeong !!”lanjutku kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua.
***
       Aku duduk disini, meja yang tepat pertama kalinya Jimin berkunjung ke tempat ini. ku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru kafe ini. kafe ini seperti biasanya, ramai dengan didatangi oleh penikmat kopi dan beberapa sepasang kekasih yang sedang berkencan. Ku seruput Cappucino hangat yang asapnya masih mengepul, dengan lagu yang mengalun yang sangat cocok dengan suasana kafe ini. menambah kesan tersendiri untuk kafe ini.
       Setelah sudah cukup aku memantau Kafe, aku melangkah keluar kafe untuk sekedar menghirup udara segar. Entah mengapa kakiku mambawaku menuju tempat ini. tempat indah dengan dipenuhi bunga sakura yang sedang bermekaran di sisi jalan, dan tak lupa dengan bangku panjang berwarna putih dibawahnya. Aku duduk di bangku itu. samar-samar aku mendengar Yeoja yag sedang berteriak, entah kenapa yeoja itu berteriak. Kemudian disusul dengan suara Namja yang sedang berusaha meyakinkan Yeoja itu.
      ‘AKU MELIHATNYA !! KAU BERSAMA PEREMPUAN ITU !! APA KAU TIDAK TAHU KALAU KAU SUDAH MEMPUNYAI SEORANG YEOJACHINGU ??’ucap Yeoja itu. aku memang tak bermaksud menguping pembicaraan mereka tapi mau bagaimana lagi ?? telingaku masih berfungsi dengan sangat bagus.
‘Chagi.. dengarkan ak..’
‘AKU SUDAH TIDAK MEMPERCAYAIMU LAGI !! DAN SATU HAL LAGI.. JANGAN PERNAH MENEMUIKU LAGI !!’potong Yeoja itu.
     Heoll !! mereka pikir ini kamar mereka. Mereka sangat mengganggu suasana yang sangat bagus ini. orang yang berlalu lalang melewati mereka juga merasa risih akibat pertengkaran mereka.
     Aku menggeleng kepala sembari mendecakan lidahku. Ku edarkan pandanganku untuk sekedar melihat setiap sudut tempat ini sampai mataku melihat kearah bangku itu, bangku yang diduduki oleh Namja dengan wajah babak belur. Tunggu !! Namja itu, sepertinya aku mengenalnya !! Park Jimin ?! itu dia !! tapi kenapa dengan wajahnya ?? ada apa dengannya ??
     Banyak pertanyaan berkecamuk di otakku. Apakah aku harus menemuinya ?? atau.. ahh.. kenapa juga aku harus menemui Namja pendek itu, lagipula apa untungnya bagiku jika aku menemuinya ?? . sudahlah..  aku berdiri berniat meninggalkan tempat ini, tapi kenapa aku ini ?? kakiku melangkah menuju tempat.. Jimin !! aku ingin Pergi dari tempat ini tapi otakku berkata lain. Ia-otakku- ingin aku menghampiri Namja itu.
     “Omona !! kau kenapa Jimin-sshi ??”ucapku setelah melihat wajahnya. Wajah yang biasanya-mungkin memang- tampan itu sebagian membiru, seperti pada bagian mata, dan pipi. Bibir merahnya itu semakin merah karena darah.
     “jimin-sshi !! Gwenchana ??”pertanyaan apa itu ?? sudah jelas dia sedang tidak apa-apa.
Author POV~
      Jimin melihat Yeoja didepannya. Ia meringis kesakitan, tangannya memegang perutnya yang-sepertinya sudah mendapat beberapa pukulan.
     Yeoja itu, Lee Seohun ikut meringis karena melihat Jimin yang sedang menahan sakitnya. Ia tidak tega jika ia meninggalkan Namja pendek yang sudah beberapa kali membuatnya sebal.
     Akhirnya ia memutuskan untuk membawa Jimin menuju ke Kafenya  yang tak jauh dari tempat yang mereka tempati saat ini. ia menempatkan lengan Jimin pada lehernnya. Jimin tersentak karena perlakuan Seohun. Ia menarik lengannya kembali dengan-sedikit kasar.
“aku tak butuh pertolonganmu”ucapnya dingin. Seohun menganga kemudian tertawa garing.
“Yaa !! apa sekarang kau menjadi Superman atau Batman yang tak membutuhkan pertolongan orang lain ?? kau hanya manusia biasa. Hentikan sikap mu yang seolah-olah kau bisa menyelesaikan masalahmu sendriri ”ucap Seohun. Ia sudah muak dengan Manusia didepannya ini.
     Jimin menghela nafas, kemudian ia membiarkan lengannya berada pada leher Seohun yang ingin memapahnya. Ia pasrah. Memang benar apa yang dikatakan Seohun, jadi dia tak ingin menambah masalah dengan orang yang baru dikenalnya. 




Oleh : Intan Dwi Ambarwati
Nb. Cerita ini udah aku post di akun wp aku, jadi maklumilah kalo sama persis:) boleh sekalian juga, kunjungin akun wp aku: IntanArmy
Load disqus comments

0 komentar